Bali Kembangkan 16 Desa Percontohan Pertanian Organik

Denpasar – Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Distan) Provinsi Bali pada tahun ini mengembangkan 16 desa organik percontohan, sebagai upaya untuk mengintensifkan pengembangan pertanian organik. Ke-16 desa yang dikembangkan tersebut terbagi dalam tiga kriteria yakni pertanian organik padi, sayur-sayuran dan buah-buahan. “Di 16 desa tersebut dibentuk kelompok Tani organik yang dibantu dengan sarana produksi termasuk benih dan peralatan yang diperlukan, serta didampingi untuk dapat menerapkan pertanian organik sesuai standar operasional prosedur yang ditentukan,” kata Kepala Distan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana, di Denpasar, Selasa (13/9). Dia mengemukakan, 16 desa organik percontohan, meliputi enam desa organik berbasis padi di Desa Berambang, Sulangai, Mengani, Peninjauan, Sambangan dan Aan, ada lima desa organik berbasis sayuran di Desa Sulangai, Plaga, Lukluk, Sangeh dan Kerta, serta lima desa organik berbasis buah-buahan di Desa Buana Giri, Bebandem, Jungutan, Amerta Buana dan Mambal. “Kami harapkan desa-desa tersebut sebagai percontohan bagi kelompok petani yang lain dalam mengembangkan pertanian organik,” ucapnya. Menurut Wisnuardhana, keuntungan pertanian organik bagi petani sudah jelas yakni kualitas hasil pasti lebih baik, menekan biaya produksi dan meningkatkan produksi serta dihasilkannya pangan yang aman dikonsumsi. “Komitmen pemerintah provinsi menjadikan Bali sebagai Pulau Organik bukanlah sekadar wacana. Di samping sebelumnya sudah memprogramkan subsidi pupuk organik agar petani memperoleh pupuk organik murah sejak 2011,” ujarnya. Lebih jauh ia mengatakan, selain itu Pemprov Bali juga telah mengembangkan kelompok-kelompok Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) sejak 2009, agar pupuk organik tersedia dalam jumlah memadai disamping berbagai kegiatan pendukung lainnya. Melalui subsidi pupuk organik, pemerintah telah menyiapkan 12.500 ton pupuk organik murah, dan dari Simantri yang telah terbangun sampai dengan 2015 sebanyak 549 kelompok. Dari kelompok Simantri telah mampu menyediakan pupuk organik padat rata-rata dalam setahun sebanyak lebih dari 20.000 ton dan pupuk organik cair (bio urine) lebih dari 20 juta liter. “Pupuk organik terbaik adalah pupuk organik produksi petani sendiri yang berasal dari kotoran hewan khususnya sapi dan kambing. Memanfaatkan pupuk organik pabrik perlu hati-hati karena belum jelas apa bahan bakunya,” ujarnya. Wisnuardhana mengatakan, kalau pupuk organik yang dibuat dari limbah pada tempat pembuangan sampah, bisa saja tercampur logam berat dan bahan-bahan berbahaya lainnya sehingga perlu diuji laboratorium sebelum direkomendasikan. I Nyoman Mardika/EHD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu