Pemimpin Oposisi Korsel Ajukan Diri Sebagai Capres

Seoul – Pemimpin oposisi utama Korea Selatan yang juga mantan kandidat presiden tahun 2012, Moon Jae In, menyatakan keinginannya untuk maju sebagai presiden jika pengadilan menyetuji pemakzulan Presiden Park Geun-hye. Moon berjanji akan memodifikasi sejumlah kebijakan garis keras Park kepada Korea Utara. Moon, pemimpin Partai Demokratik, menyatakan bahwa kehormatan besar untuk menjadi kandidat dalam pemilu presiden berikutnya. Pria berusia 63 tahun itu pernah menjadi staf untuk mantan Presiden Roh Moo-hyun, yang dilaporkan bentrok dengan pemerintahan Amerika Serikat (AS), George Bush, sekitar tahun 2000 terkait kebijakan yang pro-Korut. Moon saat ini memimpin peluang kandidat presiden Korsel dengan tingkat persetujuan 24 persen, lebih tinggi dibandingkan Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki-moon yang hanya meraih 19,5 persen. Moon menjadi pemimpin partai oposisi pertama yang mendeklarasikan maju dalam pemilu presiden menyusul pemakzulan Park oleh parlemen pada 9 Desember lalu. Keruntuhan Park disebabkan oleh tuduhan bahwa dia berkolusi dengan teman lamanya, Choi Soon-sil, untuk memaksa para konglomerat Korsel agar menyumbangkan hampir US$ 65 juta kepada dua yayasan Choi. Aliran dana itu diduga dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi Choi. Mahkamah Konstitusi (MK) Korsel saat ini sedang mengevaluasi mosi pemakzulan yang diperkirakan bisa berlangsung sampai enam bulan. Jika pengadilan setuju, pemilu presiden baru akan dijadwalkan dua minggu setelah putusan. Moon berpendapat kebijakan-kebijakan Park yang secara eksklusif menekan dan memaksa Korut untuk menyerahkan senjata nuklirnya adalah “kegagalan total”. Menurutnya, Seoul perlu untuk melakukan pendekatan lebih fleksibel dengan Pyongyang. “Kita perlu untuk melakukan dua jalur upaya di sini. Kita harus mampu menerapkan sejumlah tekanan ke Korut, di sisi lain, kita juga harus memulai sejumlah diskusi dan dialog dengan Korut,” kata Moon yang merupakan mantan pengacara hak asasi manusia (HAM). Moon juga ingin menunda penempatan perisai rudal pertahanan Amerika Serikat (AS) THAAD, yang dikecam Tiongkok karena mengancam peningkatan kehadiran militer Amerika di kawasan itu. Menurut Moon, Park justru bergerak terlalu cepat dan konfrontasi dengan membuat keputusan kontroversial tersebut. “Dia (Park) harus menemukan jalan secara diplomatik untuk membujuk kekhawatiran Tiongkok dan Rusia, yang juga khawatir atas pemasangan THAAD di Korea,” kata Moon. Natasia Christy Wahyuni/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu